Saturday, December 05, 2015

Mencari 'Kerja', menemukan tempat berkarya, menyumbangkan ilmu, pengetahuan dan pikiran.

Barangkali ini adalah sebuah pengaduan. Saat ini di berita-berita politik sedang hangat tentang pengadu yang mengungkapkan kebenaran justru diserang balik dan dituduh sebagai pengadu yang bertindak illegal karena merekam tanpa izin (mungkin izin dari penegak hukum yang berwenang).

Apa yang hendak kutuliskan ini tidak ada kaitannya dengan perpolitikan, meski dalam skala kecil tersangkut dengan politik dalam lingkungan bisnis industri pendidikan desain komunikasi visual.

Satu hal yang membuat senirupa dan desain grafis sulit berkembang keilmuannya adalah karena orientasi pendidikannya adalah menghasilkan pekerja seni dan desain yang sukses. Sukses dalam pengertian yang direduksi pada keberhasilan secara finansial. Tidak ada ilmu pengetahuan senirupa atau desain dibicarakan disini selain ketrampilan memanfaatkan pengetahuan praktis untuk menghasilkan rupiah lebih banyak.

Tidak dapat dipungkiri, keilmuan dan pengetahuan dari bersekolah senirupa dan desain grafis ini adalah ketrampilan praktis. Tanpa ketrampilan praktis ini, mustahil muncul profesi seniman visual atau desainer grafis.

Sayangnya, ketika belajar dan mempelajari hal yang baru, mengembangkan pengetahuan dan berinovasi, menjadi sesuatu yang dianggap terlalu kompleks, terlalu menyusahkan dan tidak menguntungkan untuk dipelajari, maka senirupa menjadi sesuatu yang terlalu ideal, dan desain dinilai menjadi tempat pelarian yang paling pas antara keinginan ideal dan kepentingan finansial.

Menjalani kuliah desain tidaklah semurah bersekolah di bidang ekonomi dan manajemen, di sisi lain meski memakan biaya cukup besar - sedikit dibawah kedokteran atau arsitektur misalnya, prestise lulusan desain tidaklah dipandang setinggi calon dokter atau arsitek. Dari segi apresiasi kesenirupaan, karya-karya desain juga masih dipandang kurang 'mulia' berbanding karya-karya senirupa.

Saya menekuni bidang pendidikan desain grafis sejak hampir sepuluhan tahun lalu, melanjutkan perkuliahan strata dua selama satu setengah tahun dan dilanjutkan hampir empatbelas semester untuk menyelesaikan studi doktoral. Semuanya masih dalam ranah kesenirupaan dan desain komunikasi visual. Cita-cita aku sederhana saja, karena berminat dan berniat di dunia pendidikan desain ini, maka harus punya bekal keilmuan yang memadai. Keilmuan dan pengetahuan yang bukan cuma berdasarkan common-sense yang didapat dari praktek bekerja di lapangan. Pekerjaan di lapangan kerja desain, selalu tidak jauh dari bagaimana agar bisnis jasa desain bertahan, mendapatkan klien, mengerjakan sesuai target, sesuatu yang tidak membutuhkan jenjang kuliah tinggi-tinggi untuk sukses.

Malangnya, dunia kita bukanlah dunia yang riil. Salah kaprah membandingkan pendidikan dengan kesuksesan finansial. Seorang lulusan strata tiga dituntut untuk menciptakan lapangan kerja, membuat bisnis sendiri, menjual ilmu untuk mendapatkan kesejahteraan ekonomi. Semua keilmuan direduksi sebagai alat untuk mencapai kesuksesan hidup yang terukur dari seberapa besar rupiah  bisa didapat dari mengomersilkan pengetahuannya.

Karena itu tidaklah mengherankan, manakala ada universitas yang menolak lulusan PhD dengan bidang keilmuan senirupa dan desain, karena mahasiswanya masih sedikit, belum butuh staff dosen yang bergelar tinggi-tinggi. Lagipula dengan sistem pengelolaan manajemen yang sangat bergantung kepada komputerisasi, universitas-universitas juga tidak begitu peduli dengan kualitas riil para dosennya. Sejauh yang penting dosen bisa menngajar sesuai materi yang sudah disepakati bersama atau sesuai dengan yang dibikin oleh koordinator mata kuliah. Dosen-dosen desain yang konon membidani keilmuan yang konon kreatif ini, diringkus bak sekrup-sekrup yang kalau rusak bisa digantikan siapa saja asalkan cocok spesifikasi, bahkan bisa jadi selalu tersedia dosen-dosen yang standby siap sedia menggantikan dosen-dosen kalau berhalangan hadir. Semua ini karena semua materi disiapkan sudah tersedia dalam teknologi presentasi yang tinggal dibacakan di depan layar menggunakan peralatan presentasi.

Maka dari itu muncullah 'mendadak dosen', mereka yang sejak kuliah tak pernah peduli dengan diskursus keilmuannya, tak pernah mempertanyakan sudah 'benar'-kah apa yang diajarkan dan apa yang dipelajari, tiak pernah mempertanyakan keilmuannya sendiri, mendadak karena satu dan lain hal kurang sukses dengan peruntungan bisnis di lapangan, lalu mencari jalan keselamatan dengan 'menjual ilmu' praktis dari kegagalannya berbisnis ke kampus-kampus yang berprogram studi desain komunikasi visual. Selain itu juga terdapat cukup ramai pebisnis sukses yang mencari duit sampingan dengan mengajar. Di sela-sela pelbagai kepentingan yang tidak berkontribusi langsung dengan perbaikan kualitas pendidikan dan pembelajaran desain ini, terkadang masih muncul kesadaran dari segelintir kecil dosen-dosen yang mulai peduli. Akan tetapi, halangan terbesarnya adalah sejak kuliah mahasiswa senirupa dan desain memang kurang suka teori, kurang suka membuat analisa teoretis, atau tepatnya bahkan tidak pernah hal demikian - menganalisa, membahasakan visual, membicarakan ekspresi visual - menjadi pelajaran kuliah dan latihan essay yang dianggap dibutuhkan atau bahkan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran calon seniman ataupun desainer grafis.

Jadi, hal yang ajaib adalah siapa saja desainer grafis yang sudah pernah menjalani profesi sebagai desainer, dianggap bisa menjadi dosen mata kuliah praktek. Sedangkan untuk kuliah yang sifatnya teoretis diserahkan kepada dosen yang dilihat suka baca, atau bersedia mengajakannya. Kompetensi, dedikasi dan integritas para dosen diukur dari kesediaan mengikuti prosedural administratif seperti absensi kehadiran, kesesuain materi ajar dengan satuan ajar yang sudah dibakukan, dan sejenisnya. Perkara dosen menyiapkan sendiri, mengembangkan sendiri, bahkan membeli sendiri pustaka atau peralatan bantu mengjar itu sama sekali tidak mendapat tempat, atau dengan istilah teknisnya tidak ada variabel yang menyebutkan bagian ini.


akan disambung...

Thursday, July 12, 2012

Seorang Umat yang Belajar menjadi Muslim 20

Sekarang ini semakin ramai orang yang membaca dan mengambil fakta di sana-sini, tetapi tidak menyadari bahwa apa yang dinamakan fakta dan apa yang sebenarnya dibaca olehnya. Berikut ini adalah penggalan kisah yang sering dijadikan rujukan tentang masalah pertemanan seorang muslim dan non-muslim. Saya mengopi-paste dari situs di internet dan dengan sengaja tidak mencatatkan narasumber-nya hanya link ini: http://ruslihasbi.wordpress.com/hikmah/r/

------------------------------------

Mengangkat Pembantu

Jangankan untuk menjadi pemimpin, untuk menjadi pembantu pun peluang seorang Yahudi dan Nasrahi patut dipertanyakan. Dari ‘Ayyadh diceritakan bahwa Saidina Umar Ra memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari (sahabat Nabi) untuk memberikan laporan tentang apa yang telah diambil dan diberikan oleh rakyat. Wakana lahu katib nasrani.. Abi Musa mempunyai seorang sekretaris yang beragama Nasrani. Farafa’a ilaihi… kemudian Abu Musa menyuruh sekretarisnya untuk membacakan isi laporan. Laporan tersebut ternyata sangat detil dan teliti. Umar r.a. yang tidak mengetahui status agama yang dianut oleh sekretaris tersebut menjadi kagum dan berkata, “inna haza lahafidz” ini memang jujur sekali. Kemudian Umar berkata, “Hal anta qori’ lana kitaban fil masjid ja-a min Syam?” Umar menawarkan kepada sektretaris tersebut untuk membacakan di dalam masjid sebuah surat yang baru saja tiba dari Syam (Suriah).

Namun Abu Musa menyela dengan mengatakan bahwa seketretaris tersebut tidak bisa membacakan surat tersebut di Masjid. Lalu Umar bertanya kenapa. Apakah karena ia berjunub sehingga tidak bisa masuk masjid? Faqala la bal nasrani.. “dia tidak berjunub, tetapi dia seorang Nasrani”. Saidina Umar langsung marah dan memukul paha Abi Musa. tsumma qala akhrijuhu, kata saidina Umar, “keluarkan Nasrani itu dari sini!”

Di sini kita pahami bahwa masalah pemilihan sosok pemimpin (dan pembantu – red) adalah masalah sensitif yang perlu kehati-hatian. Jangan sampai kita diatur oleh orang-orang yang telah jelas-jelas perannya bagi umat Islam dilarang oleh Allah SWT.
------------------------------------

Penulis diatas tampak dari situs jaringannya adalah seseorang yang terlihat arif dalam bidang dakwah. Tetapi kisah Imam Umar r.a tersebut dimaknai secara induktif sehingga melupakan dalam konteks apakah berita ini diwartakan.


Kita coba untuk membacanya dengan sedikit jernih bahwa Imam Umar r.a memberi perintah kepada:

"Abu Musa Al Asy’ari (sahabat Nabi) untuk memberikan laporan tentang apa yang telah diambil dan diberikan oleh rakyat."

Secara kontekstual kita dapat mengasumsikan bahwa yang sedang diwartakan ini berkaitan dengan 'rahasia' pemerintahan yang sedang dipimpin oleh khalifah Imam Umar r.a.

Kemudian ditambahkan lagi kejadian berikut ini:

"Umar menawarkan kepada sektretaris tersebut untuk membacakan di dalam masjid sebuah surat yang baru saja tiba dari Syam (Suriah)."

Begitu pula hal ini, tentunya surat tersebut mempunyai tingkat kerahasiaan yang lebih tinggi, mustahil khalifah Imam Umar r.a akan membiarkan yang bukan muslim terpercaya untuk membacanya.

Tingkat kehati-hatian dalam kondisi seperti diwartakan diatas tentu berbeda dengan kondisi keseharian kita saat ini. Dan mengambil kesimpulan sepotong kisah yang terjadi di masa Khalifah Imam Umar r.a kemudian mengeneralisirnya untuk semua keadaan tentunya bukanlah suatu tindakan yang bijak apalagi benar.

Wallahualam.

Sunday, March 28, 2010

Adakah sabar yang tiada berbatas?

Hanya sebagian kecil manusia yang mempunyai niat benar-benar ingin berubah dalam hidupnya. Sebahagian besarnya hanya berkata-kata daripada mengerjakannya. Kebanyakannya pula menyembunyikan sifat-sifat kurang baik dalam bawah sadarnya dan justru merasa was-was karena beranggapan orang lain pun bersifat seperti itu.
Lalu apa yang dapat kulakukan kalau itu terjadi pada orang-orang didekatku? Dahulu tampak lembut sekarang tampak garang. Dahulu pandai mengalah, sekarang pandai melunjak. Yang tua belajar bersabar, tetapi yang muda lupa diri. Menunjuk-nunjukkan emosional dengan begitu merasa benar. Pandai memperlihatkan rasa tidak suka terhadap sesuatu, tetapi diri sendiri bukannya banyak kelebihan. Senantiasa menganggap diri sendiri istimewa, tetapi dengan jalan menuduh orang lain yang berbuat demikian.
Kaca cermin ada banyak dimana-mana, mudah didapatkan, tetapi sedikit sekali manusia yang mampu bercermin pada dirinya sendiri.

Sampai kapan dan sampai dimana adanya batas kesabaran itu, ya, Allah ya Rabb? Hanya engkau yang memilikinya. Karena itu kumohon agar Engkau turunkan setitik saja 'kesabaran' bagi umat-umatMu yang hidupnya penuh amarah yang tiada mereka sendiri sadari.

Friday, October 30, 2009

menjadi muslim ideal, mencari kesempurnaan islam

National Geogarphic baru-baru ini menurunkan artikel tentang Islam di Indonesia.
Kadang kala terpikir juga, apakah para Islam fundamentalis hidup berbahagia dengan segala keketatan aturan hidupnya yang diklaim mengikut kesempurnaan ajaran Islam dengan menjalankan hukum Allah.

Kalau ditanya secara langsung pasti jawabannya adalah iya, tanpa ada keraguan terlintas.
Seperti apakah idealnya penerapan hukum Islam di Indonesia yang notabene nyaris 90% penduduknya adalah muslim. Indikasi bahwa Indonesia seharusnya berlandaskan hukum Islam sebenarnya sangat kuat, sayangnya, apakah kalau dilaksanakan suatu referendum nasional untuk memungut suara mayoritas umat Islam saja akan diperolehi kenyataan yang sama?
Saya tidak punya kapasitas untuk menduga-duga hasil yang mungkin muncul dari situ. Tapi untuk membayangkan sebuah Indonesia yang islami saja sudah sangat berat, mengingat mentalitas bangsa, visi dan misi kebangsaan yang sudah cukup porak-poranda akibat ketidakbecusan pemerintahan di masa lalu.

Barangkali yang perlu dilakukan untuk itu adalah mengenalkan dan mempraktekkan cara hidup islami di tengah-tengah masyarakat. Sehingga diharapkan masyarakat non-muslim dapat merasakan manfaat dari keberadaan hukum Islam yang bukan dipraktekkan melalui hukum-hukuman dengan alasan syariat.
Karena walau bagaimanapun hukum Allah itu pada akhirnya dijalankan kepada manusia, dan yang menjalankannya adalah juga manusia, bukan malaikat-malaikat yang tidak mengenal nafsu, ego, dan pikiran seperti manusia. Untuk menjamin tegaknya praktek penegakan syariat Islam ini dibutuhkan bukan hukum di atas hukum, tetapi hukum di dalam diri manusia itu sendiri.
Jadi, sebelum menaikkan hukum Allah menjadi praktek di tengah masyarakat, umat Islam di Indonesia harus sudah mempraktekkan jalan hidup islami terlebih dulu, bukan melalui paksaan dan ancaman yang datang dari manusia (sekalipun dengan dalih itu hukuman dari Allah), tetapi kesadaran yang timbul dari kebutuhan seorang muslim akan adanya hukum Allah dalam dirinya.

Ini adalah sebuah jihad, jihad untuk menciptakan negeri yang islami bukan melalui kekerasan ataupun utopia yang muluk-muluk. Segala yang sudah nyata dinyatakan haram harus ditegakkan, tetapi jangan menyata-nyatakan hal-hal yang sifatnya adalah supaya manusia berijtihad mencari hikmahNya. Kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita, melakukan poligami bagi pria yang mampu atau pengharaman seni musik dan seni rupa dan sebagainya adalah hal-hal perlu melalui proses yang ketat. Semuanya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, semuanya untuk memartabatkan manusia sendiri, tetapi dalam menyampaikannya kita tidak boleh lupa bahwa keikhlasan itu penting, jauh lebih penting daripada hukuman dan larangan. Karena keikhlasan inilah yang membuat seorang wanita pezina berani menghadapi kematian melalui hukum rajam ataupun cambuk. Ikhlas tidak dapat dipaksakan, sebagaimana seseorang itu juga harus ikhlas kalau hidayah tidak diturunkan Allah kepadanya. Keikhlasan tidak dapat diperolehi lewat cara-cara kekerasan, hukuman seperti rajam dan cambuk yang mungkin membawa kepada kelumpuhan hingga kematian akan menjadi sia-sia kalau tidak disertai keikhlasan dari dalam diri pelaku. Sementara dosa tidak terampuni, detik-detik untuk bertobat pun bisa datang terlambat.

Dalam sejarah, Nabi pada akhirnya memimpin perlawanan terhadap kaum kafir Quraisy setelah menunggu sekian lama perintah dari Allah. Berperang adalah pertimbangan jalan terakhir yang ditempuh oleh Rasulullah. Dan alasan untuk berperang pertama kali dilakukan bukanlah karena kaum kafir Quraisy menghina Allah ataupun menghina ajaran Islam, ataupun karena menghina diri Nabi sendiri. Tetapi berperang untuk mendapatkan kembali hak mereka, kemudian berperang untuk mempertahankan diri, dan berperang melalui kemenangan psikologis ketika berhaji dan pulang ke Mekkah. Sekarang yang terjadi seringkali berubah menjadi tindak kegananasan, mungkin hanya sebagian kecil yang demikian tetapi akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Umat Islam gampang tersulut api kemarahan yang berlebihan kalau ajaran Islam dicemarkan, Nabi dilecehkan, atau kebenaran Allah diusik.
Padahal masih banyak cara-cara beradan dan diplomatis yang belum banyak ditempuh. Padahal kalau umat Islam bersatu meskipun dengan kepelbagaian perbedaan kultur dan tingatkan pengamalan syariatnya, kalau umat Islam kokoh, siapa yang berani mempermainkan mereka?
Kita berhak untuk marah, kita juga berhak untuk bertindak keras, karena kita bukanlah seperti Rasulullah, kita juga bukan malaikat Allah, kita hanya mampu mengikut sunnah dan perilaku Nabi tetapi kita tidak akan dapat seperti Rasulullah. Kalau memang mengikuti langkah Nabi, hendak sebagai seorang muslim kita dahulukan toleransi, kita dahulukan sikap lemah lembut sekalipun pada musuh kita, kita dahulukan musyawarah untuk mufakat, kita dahulukan apa-apa yang didahulukan oleh Rasulullah ketika memimpin umat Islam.

Tuesday, October 27, 2009

Yang terbedakan dan yang terpisahkan

Terdapat sebuah negeri yang sebahagiannya tercantum dengan dihujung benua yang lebih besar dari dirinya, dan sebahagian lagi terpecah-cacah dalam bilangan pulau berpulau. Kepulauan yang dahulunya di kenal 'N'. Bahagian negeri yang berada di kepulauan secara sunatullah melindungi negeri yang tercantum dengan di hujung benua.
Dahulu kala manusia-manusia berbondong berlabuh ke berbagai belahan negeri ini. Berbagai bangsa dari negeri-negeri yang jauh menyatu dan menciptakan bangsa yang baru. Setelah sekian ribu tahun terpisah dari moyangnya, bangsa ini lupa pada asal-usul dirinya, manakala bangsa-bangsa dari negeri-negeri jauh itu kembali mendatangi mereka.
Bangsa baru ini cenderung mudah berpecah-belah, sehingga kini negeri yang berada di hujung benua dan negeri yang berada di kepulauan bergaduh satu sama lain. Mereka menyebut negeri mereka yang satu 'I' dan satunya lagi 'M'. Negeri yang satu telah kurun zaman berzaman melahirkan beragam budaya dan kerajaan sehingga penghuninya melebihi ambang kemampuan untuk dikendalikan. Yang pada akhirnya negeri I ini mempunyai masa lalu, tetapi lambat laun membuyarkan masa depan-nya sendiri. Sementara itu negeri M bercita-cita membangun masa depan namun masih dilamun keinginan menciptakan masa lalu yang tak dimilikinya.
Negeri M sekarang menjadi lebih makmur karena korupsi yang tidak terlalu berlebihan dan juga jumlah penghuninya yang tidak seberapa dibandingkan dengan negeri I. Secara alamiah negeri I mempunyai jumlah cerdik pandai yang lebih, tetapi juga berbanding lurus dengan jumlah orang liciknya. Sedang negeri M mati-matian meningkatkan jumlah orang pandainya dengan berbagai suntikan dana dan kemudahan bagi melahirkan kaum intelektual.

Ada banyak hal-hal yang tak terbedakan meskipun kedua negeri yang dulu satu itu sudah terpisahkan. Kalau salah satunya mengata-ngatai satu sama lain, sebenarnya ibarat seseorang yang meludah ke atas langit dan terciprat muka sendiri. Dunia sudah semakin tua, tetapi anak-anak bangsa ini masih asyik tenggelam dengan mimpi-mimpi untuk menjadi manusia terunggul. Lupa untuk melihat kembali bahwa dahulunya mereka tidak ada di dunia ini

Saturday, October 03, 2009

Hukum Allah vs Hukum Manusia

Saya bukan pakar syariat Islam, juga bukan penghafal Quran, dan apalagi seorang pakar Islam. Tetapi sebagai umat yang berserah diri, kadang-kadang hal-hal seperti ini menjadi pikiran juga.
Entah bagaimana muncul seolah-olah ada permusuhan Allah dan Manusia, antara hukum yg berasal dari Allah dan hukum yang disusun oleh Manusia.
Sebenarnya pelik kalau menyebut bahwa ada hukum yang diciptakan manusia, karena hukum tidak diciptakan tapi desain, disusun, dan dikembangkan bahkan dimanipulasi untuk kebutuhan manusia. Dalam pembuatan hukum-hukum itu tidaklah semata-mata hanya akal manusia saja yang bekerja, didalam proses tarik ulur dan susun ulangnya pasti akan terlibat juga manusia-manusia yang juga beriman dan mengandalkan pertolongan atau ilham dari Allah.
Allah tidaklah bermusuhan dengan Manusia, sebaliknya Manusia pun tidaklah bermusuhan dengan Allah. Hanya Syaitan bermusuhan dengan Manusia.
Manusia dapat berbuat salah, dalam kesalahannya dapat dikarenakan oleh tipu muslihat Syaitan. Karena itu hukum-hukum yang dibuat manusia untuk kepentingan manusia sekalipun dapat terdapat kesalahan dan manipulasi Syaitan. Tetapi secara total menolak mentah-mentah bahwa hukum manusia bertolak belakang atau bermusuhan dengan hukum Allah adalah suatu cara pikir yang salah kaprah.

Bagaimanapun hukum Allah adalah hukum bagi internal dalam diri manusia secara individu. Kesalahan dalam menjalankan hukum Allah bukanlah serta-merta dihukum secara fisik, tetapi berupa dosa-dosa. Dan bagaimanapun sempurna hukum Allah ketika diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat manusia, hukum itu akan melalui proses pemanusiaan.
Sebagai contoh kasarnya adalah hukum atau syarat seorang lelaki untuk dapat kawin lagi dengan calon istri yang kedua. Syaratnya harus mendapatkan izin dari istri pertama. Nah, bagaimana bentuk, format, formalitas, legalitas, perizinan dari istri pertama adalah proses 'pemanusiaan' dari hukum Allah kepada hukum manusia. Bagaimana agar manusia tidak memanipulasi hukum Allah soal perkawinan lebih dari satu dan kurang dari lima adalah kewajiban manusia untuk terus menerus mengkaji, mengembangkan dan menyenmpurakan hukum manusianya.
Apakah perizinan dari istri pertama cukup secara lisan? Apakah perlu ada saksi? Apakah harus dengan surat tertulis dengan cap jari dan tanda tangan? Bagaimana dengan kesaksian bahwa proses meminta izin istri pertama untuk kawin lagi ini tidaklah melalui proses manipulasi atau intimidasi?
Banyak lagi detil-detil yang mana untuk menegakkan hukum Allah, dibutuhkan pemikiran dan kejujuran dari manusia untuk menerapkannya dan menjalankannya melalui hukum manusia.
Kita yakin bahwa hukum Allah itu baik, tetapi bukan berarti karena hukum dari Allah itu baik, maka dalam menjalankan hukum itu dengan sendirinya menjadi baik belaka. karena justru dalam menjalankan hukum Allah itulah, manusia senantiasa diintai oleh Syaitan untuk melakukan kesilapan-kesilapan.

Saturday, May 23, 2009

Musik: Antara Mendengar dan Memainkan Sesuatu yang diHaramkan

Daripada 'Abdul Rahman bin Ghunm, katanya Abu 'Ami'r atau Abu Malik Al-Asy'ari menceritakan kepada saya, beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Sungguh akan terjadi satu kaum dari umatku yang menghalalkan zina, kain sutera, arak, dan alat-alat permainan musik.” (riwayat Al-Bukhari)

Dari Imran bin Hushain diriwayatkan bahwa ia berkata Rasullulah SAW bersabda,”Umatku suatu saat akan tertimpa fitnah, pengubahan bentuk sebagian mereka, dan pembenaman tempat tinggal merek.” Sebagian sahabat bertanya,”Wahai, Rasulullah! Bilakah itu akan terjadi?” Rasullulah menjawab,”Apabila alat-alat musik dan para penyanyi telah memasyarakat dan banyak orang meminum khamar.” (At-Tarmidzi)

Sekilas dua hadist diatas tampaknya telah dengan tegas memberikan peringatan keras berkenaan dengan musik. Baik mendengar atau memainkannya. Perkembangan musik saat ini sudah sangat meluas, yang terbesar tentunya ada di dunia hiburan, nyaris tidak ada hiburan tanpa diiringi musik. Disamping itu pengaruh musik yang demikian dalam pada diri manusia, sehinggalah muncul peringatan dari Rasullulah bahwa musik dapat membuat manusia lalai dan lupa beribadah kepada Allah SWT. Karena itu, tidaklah menherankan kalau musik ini menarik hati kalangan saintis untuk meneliti dan mencari tahu tentang pengaruh musik pada emosional dan kejiwaan manusia.

Pemahaman tentang musik kontemporer tidak saja terbatas hanya pada musik-musik hiburan. Orang-orang semakin menyadari pengaruh suara-suara disekitarnya. Suara sungai mengalir, angin bertiup, daun gemerisik, suara binatang (serangga) di malam hari, semuanya terdengar bagai sebuah simfoni musik dari alam. Dengan majunya teknologi, untuk menghasilkan musik dapat dilakukan tanpa menyentuh alat-alat musik langsung, dan lebih jauh lagi dapat diciptakan suara alat musik (jenis baru) tanpa merujuk jenis alat musik yang sudah ada sebelumnya.

Dalam perkembangan musik tidak lagi harus berupa komposisi lengkap, sebuah suara pun dapat di program menjadi musik tersendiri. Dalam psikologi, banyak penelitian membuktikan jenis-jenis musik tertentu dapat bermanfaat sebagai terapi penyembuhan.

Dalam Islam, suara dalah hal yang penting. Dalam panggilan shalat melalui suara Adzan, dan dalam membaca Al-Quran yang dilagukan. Sejak lahir manusia disadarkan oleh suara Adzan ketika ia lahir sebagai bayi dan dilaungkan adzan ditelinganya oleh sang ayahanda.

Musik terlepas dari lirik atau syair lagunya, kini banyak dijadikan alat terapi kejiwaan. Musik dapat membantu menolong pembentukan jiwa seseorang sejak ia masih dalam kandungan, demikian penelitian musik mendapatinya.

Rasullulah menganjurkan kita membaca Al-Quran dengan lagu yang seindah-indahnya. Tersirat didalamnya bahwa banyak manfaat dari membaca Al-Quran. Kalau saja musik dapat memberi manfaat yang begitu banyak, bagaimana kiranya dengan bacaan Quran yang didendangkan sejak dari jabang bayi? Ini tentunya menjadi suatu penelitian yang mempertebal keimanan umat Islam, dan tentunya merupakan suatu rahmat bagi umat manusia pada umumnya.

Hadist-hadist yang melarang musik ada banyak, penulis merujuk diantaranya 4 (empat) buku oleh pengarang yang berlainan dan mendapati beberapa hal yang menarik. Sementara terlepas dari persoalan halal dan haram terlebih dulu:
Alat musik (atau kegiatan bermusik) selalu disebutkan bersama-sama dengan; kain sutra (mungkin dimaksudkan sebagai pakaian mahal), tarian (dan penari-penari), khamar (arak), dan pesta pora.
Arak meski diharamkan dengan tegas dalam Quran, tetapi proses penuruan ayat melarang keras arak melalui tahapan-tahapan, dimulai dari akibat minum arak orang bertengkar, kemudian berkelahi hingga berakibat saling berbunuhan.
Semua hadist yang melarang musik menunjukkan pertanda-pertanda bagaimana musik itu berad dan akibat keberadaanya. Misalnya musik dimainkan saat orang berpesta pora dan mabuk-mabukkan, atau musik yang membuat orang larut berlebihan ke dalam perasaan sehingga lupa waktu untuk beribadah.

Tampaknya kesan musik mempunyai akibat buruk itu bisa kita temui misalnya di diskotik dan pesta pora yang berlebihan, tapi bukanlah musik yang menciptakan kegiatan itu, melainkan manusia yang merancangnya dan musik adalah bagian dari memeriahkan rancangan itu.

Suatu kenyataan yang berbeda sekali manakala musik digunakan dan dikreasikan untuk mencari ketenangan hidup atau relaksasi. Tidak hingar bingar, bukan pesta pora, tari-menari, tidak pula arak dan juga pakaian mahal. Untuk relaksasi seseorang perlu membiasakan kesederhanaan hidup. Bagaimanapun, musik adalah duniawi dan kreasi manusia sehingga ada batasan yang tidak boleh dicampur dengan kegiatan ibadah yang sakral, karena memang bukan pada tempatnya.

Baik secara akal maupun iman, tidaklah pantas seseorang membaca Quran sambil membunyikan audio musik sekecil apapun dengan alasan apapun. Membaca Quran membutuhkan konsentrasi dan membacanya dengan setepat mungkin. Lantunan musik akan mengintervensi konsentrasi itu dan apabila ada syair lagu yang terdengar akhirnya akan melalaikan pembacaan Al-Quran.

Demikian juga dengan shalat diselingi suara musik juga bukan pada tempatnya. Tidak mungkin mendengarkan bacaan shalat sambil diiringin lantunan musik. Akal dan iman yang benar dan lurus tentu tidak akan membenarkan hal ini terjadi.

Musik tidak pernah menjadi bagian dari dakwah Rasullulah, selain sebatas melagukan (memperindahkan) bacaan Al-Quran, Rasullulah hanya menginzinkan musik untuk keperluan 'private', seperti majelis perkawinan, perayaan hari raya, itupun dengan tidak berlebihan. Oleh sebab itu, mengharamkan musik secara mutlak menjadi sesuatu yang tampak berlebihan. Sebaliknya menganjurkan musik untuk alat dakwah juga perlu kehati-hatian. Suara adalah musik sejati, dan suara adalah seni yang tertinggi yang jangan disalah gunakan.

Dahulu kala, musik hanyalah untuk tujuan sakral, tetapi sekarang musik berkembang menjadi beragam dan ada dimana-mana. Dahulu musik dimanfaatkan untuk meningkatkan jiwa manusia dan berhubungan dengan Sang Khalik, sekarang kebanyakan musik lebih kepada kepuasan fisik dan psikis manusia. Apa yang diwanti-wanti oleh Rasullulah sudah terjadi:”...sungguh akan terjadi satu kaum dari umatku yang menhalalkan zina, kain sutera, arak dan alat-alat permainan musik...,”dan manakala hal itu sudah memasyarakat artinya,”...umatku suatu saat akan tertimpa fitnah...”

Secara ringkas, perlakuan mengharamkan atau menghalalkan musik tidak akan banyak berarti bila hanya sebatas retorika. Untuk mengubah itu semua adalah 'hati nurani', cahaya yang membentuk akhlak mulia dalam diri manusia yang perlu senantiasa dinyalakan. Amin.