Skip to main content

...kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. 17:16)

Indonesia. Negeriku tercinta. Sudahkah tiba waktunya untuk bangkit (menjadi sadar kembali) dari tidur panjangnya?

Surah Al Israa’ ayat 16 itu benar-benar sesuai mencerminkan keadaan negeri kita ini. Tidakkah kita dengar berbagai perbincangan, diskusi dan debat di berbagai media tentang kebangkitan nasional, kebangkitan bangsa, dan kebangkitan harga diri manusia Indonesia?

Namun adakah kita dengar sejurus tentang kebangkitan ‘akhlak’ didengungkan oleh sesiapa (yang bukan penceramah agama)? Adakah kita berbicara tentang kembali kepada fitrah manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan?

Akh, itu omong kosong saja. Mungkin dianggap naif, dengan melihat kondisi negeri kita untuk berbicara soal akhlak manusia dan perihal Tuhan.

Dengarlah nasihat peringatan Allah pada ayat tersebut diatas… Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah). Negeri kita Indonesia tercinta sudah bukan rahasia lagi selama ini dikuras kekayaannya oleh pembesar-pembesar negeri kita, dijual sebagai bahan baku ekspor dan sebagainya, hasilnya sebagian besar masuk ke kantong-kantong pribadi mereka dan lahirlah segolongan orang-orang kaya. Kaya disini janganlah dianggap orang mampu yang punya rumah besar, pembantu banyak, tukang kebun, televisi layar lebar, mobil-mobil mewah, tidak orang kaya di negeri ini bukan sekedar materi seperti itu. Kekayaan yang dikatakan Allah adalah mereka segolongan orang yang kaya raya sehingga seharusnya mereka mentaati perintah Allah untuk menggunakan kekayaannya di jalan yang lurus, membangun negeri ini dengan kekayaannya, justru berbuat munkar. Allah berikan mereka kekayaan dan kekuasaan agar dapat merubah nasib rakyat dalam negerinya. Mereka mampu…. Tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka akibatnya sekarang negeri Indonesia mengalami kehancuran yang sehancur-hancurnya. Para penguasa yang kaya raya selama memerintah negeri ini telah mengakibatkan kerusakan parah di berbagai sendi perikehidupan negara Indonesia. Ekonomi morat-marit, kehidupan sosial carut-marut, tidak adanya strategi kebudayaan, rakyat yang miskin harta miskin pula jiwanya, apakah lagi yang tersisa? Tidak ada lagi kehancuran yang perlu ditunggu, karena kehancuran itu sudah didepan mata dan sama-sama kita alami. Bencana alam sudah berulang kali.

Kita saksikan bersama, orang-orang berada yang takut jatuh miskin berniaga dengan akal-akalan menipu supaya tampak halal, pengusaha menipu-nipu membeli minyak bersubsidi, penjual minyak bersubsidi menyusah-nyusahkan masyarakat, pupuk bersubsidi diekspor, pupuk untuk petani dipalsukan, jalanan dibiarkan rusak sementara anggaran terus diminta, kesejahteraan pribadi lebih diutamakan padahal dia adalah pelayan masyarakat, mengurus ktp sebulan tak siap-siap dengan alasan materai kosong, orang-orang berlagak miskin supaya dianggap sah berbuat salah, berbuat kriminal dengan alasan hidup susah, tidak ada disiplin dalam hidup tetapi tetap berharap mau hidup enak.

Adakah kebangkitan kembali dari kehancuran ini? Harapan kita satu-satunya adalah sabar dan tawakal (berpikiran positif) kepada Allah semata. Meminta keridhaanNya agar menumpahkan air Hidayah dari langit agar dapat membersihkan jiwa-jiwa yang gelap pada diri manusia-manusia yang telah diberikan kemampuan untuk merubah nasib bangsa dan memimpin di negeri ini.

Kalau para pemimpin negeri dan bangsa ini berbuat mungkar, siapa lagi yang dapat merubah nasib bangsa ini? Pemimpin mulai dari bapak dan ibu lurah, kepala lorong, anggota-anggota dpr dprd, para pengusaha, para pimpro, hingga kepada presiden dan panglima tertinggi di negeri ini, mampukah bangkit dari ketidaksadaran bahwa manusia Indonesia ini sudah lama tertidur dan tidak sadar bahwa telah mendarah-dagingkan berbagai kemungkaran sebagai kebiasaan. Haram dihalalkan, seperti korupsi tetapi dianggap bukan korupsi, berbagai tipu daya, mengolah-olah supaya tidak keliatan korupsi dan dianggap sah secara undang-undang. Memang manusia bisa ditipu, tapi hati sendiri dan Allah tidak mungkin ditipu. Kalaulah memang hati nurani sudah gelap tertutup, maka tidak akan pernah dapat kita harapkan kebangkitan apapun dari jiwa-jiwa yang seperti itu. Sungguh malulah kita untuk meminta hidayah diturunkan oleh Allah untuk mereka. Wallahualam.

Comments

Makasih,
Ini mungkin sesuai dengan gempa di padang yg terjadi jam 17:16..

Popular posts from this blog

Qissatul Iman: Kisah Mencari Tuhan

Buku ini di tulis oleh Syekh Nadim Aj-Jisr, berupa uraian percakapn teologis-filosofis tentang wujud Tuhan. Wujud Tuhan dalam pengertian disini bukan wujud dalm bentuk 'shape' atau 'form', tetapi wujud keberadaannya di alam semesta, terutama dalam wujud abstraksi pemikiran. Perbedaan yang semakin menjurang antara pemikir dan pemikiran Islam dan Barat adalah diakibatkan dari di satu pihak kejumudan umat Islam terhadap pemikiran tertentu, dan kebebasan ekstrim dalam berpikir di pihak pemikir/pemikiran Barat. Satu-satunya manusia dan juga nabi yang diberi predikat maksum hanyalah Muhammad Rasullullah s.a.w, sebagaimana yang diimani oleh umat islam. Karena ajaran yang dibawanya bukan berasal dari pemikiran pribadi, tetapi diturunkan oleh Allah S.W.T kepada beliau. Percik pemikiran pribadinya dapat dilihat melalui tingkah laku dan perkataan yang disebut Sunnah nabi. Hanya nabi yang senantiasi dilindungi dari kesalahan dan kesia-siaan perbuatan oleh Allah, hanya beliau ya...

Kisah Negeri yang Tak Kunjung Menghargai Jasa Pendidiknya

0.Esei ini dituliskan sebagai refleksi atas suatu masa dimana penulis hidup dan mengalami sendiri betapa mendapatkan kesejateraan dari penghidupan melalui minat dan niat terhadap dunia ilmu pengetahuan kemudian membagikannya kepada anak-anak bangsa tidaklah memberikan jaminan kelayakan hidup. 1.Ada kesan dosen itu bukan profesi sebagaimana pekerjaan lainnya boleh mendapatkan kelayakan renumerasi yang berkecukupan, seolah-olah itu sebuah tabu. Bahkan, muncul motivasi negatif dari orang-orang yang konon berjiwa sosial mengabdikan hidupnya di luar dunia kependidikan dan menjadikan usaha dagangnya memberi manfaat bagi masyarakat yang lebih luas ketimbang hanya di civitas akademika. 2.Terdapat kebingungan membedakan mana konteks menyejahterakan profesi pendidik dan mana konteks sosial peran pendidik sebagai personal makhluk sosial menyejahterakan masyarakat sekelilingnya. Yang satu sebagai dosen bertanggung-jawab atas pengembangan keilmuannya, membangun 'body of knowledge' menjadi ...

Kesungguhan dan Kepura-pura-an

 Belakang hari ini semakin terlihat betapa mirisnya dunia pendidikan tanah air dijalankan. Pengejaran ranking menjadi komando tertinggi, bukan dengan memperbaiki infrastruktur dalaman, namun menonjolkan luaran-luaran, dengan target minimum syarat dan kompetensi. Yang diutamakan adalah pengisian kolom-kolom penilaian, tanpa ada waktu dan perhatian lagi untuk melihat apa yang di-wakilkan oleh angka-angkat penilaian tersebut. Yang terpenting adalah 'check-list' semua syarat-syarat terpenuhi. Ambil contoh perpustakaan, jumlah buku, dan presentase tahun terbit serta judul-judul yang bisa dipakai untuk mendukung akreditasi sekaligus semua program studi jauh lebih diutamakan, ketimbang memeriksa kesesuaian ketersediaan isi buku, judul dan jumlah dengan kebutuhan bagi para pendidik dan peserta didik. Angka-angka penilaian perpustakaan adalah bagian yang paling mudah untuk dimanipulasi datanya. Bagian-bagian fasilitas perpustakaan mudah untuk didokumentasikan sekedar melengkapi daftar p...