Skip to main content

Visual Semiotics in Graphic Design

Creativity in graphic design is about the quality of clearness when communicating a massage with visible sign. In simple words, graphic design is about how to combine text and image, thus both elements collectively influence ideas to make a creative design. In addition, graphic designs is also an activity of combining pictures, illustrations, photographs, typography, and then print for purposes of promotion, information, or instruction. People can easily see things created with graphic design, such as ads, billboards and signboards. When a visible sign attracts their eye, they will try to interpret the whole design, and therein a visual interaction occurs in people’s minds.

Semiotics is a study of communication through signs; it is about interpreting signs. Signs split into two parts but as a whole, it is the relationship of Signifiers and Signified. The signifier is what the physical material of the signs is about, such as words, colours, gestures, images and any other artefacts, on the other hand, signified is the component of mental conception. Signifiers are meaningless by themselves, until someone makes a connection to the Signified as objects, ideas, or concepts.

For example, when we say a word ‘chair’, people in ‘bahasa’ interpret it as ‘kursi’, a seat with four legs. The word ‘chair’ alone means nothing, unless ‘bahasa’ users have perceived that ‘chair’ is ‘kursi’. Therefore, the spoken or written word of ‘chair’ is called signifier, the physical manifestation of what a ‘chair’ means in our mind’s conception. The signified is the idea about what is ‘chair’ or ‘kursi’, which is defined as a thing with four legs beneath a sitting pad. It doesn’t matter what is the exact shape of the ‘chair’, as long as bahasa users could perceived it as ‘kursi’.

These semiotics approaches to graphic designing can be said to be visual semiotics. In other words, it can be ultimately said that in graphic design, a signifier is their visual appearance, therein a signified is their related visual conception. The audience shows this visual semiotics through the whole design interpretation. A design cannot stand by itself. Further, it occurs when the audience looks at a design but does not have any reference to be connected as its context. In this case, that context is something which might be a conception to help them to understand the design purposes.
Visual semiotics in graphic design has three basic terms.


First, it has semantics, which is design tendencies or meaning, in which all the design elements are interacted. It emphasizes the grammatics of design, such as hierarchy, harmony, rhythm, and movement, dominancy.

Next, it has syntactics, which is how design elements interact each other creating a possible meaning. It emphasizes as vocabulary of design, such as point, line, space, tone, texture.

Moreover, it has pragmatics, which is how people perceive the effects of the design. It is how a design is seen, read and understood by the audience. It emphasizes speech of a design, such as dynamic, speed, strength, stable.

This visual semiotics works is described in three parts.
First, it is iconic, in which we saw a seamless design and its object is easily recognized, such as a kid draw an aeroplane that refer to the real plane.
Then, it is indexical, the design has a direct link with an object, such as a road signs with a man-crossing the street, which means drive carefully because there is a pedestrian (zebra) crossing.
Last, it is symbolic, which means design and its meaning has no necessary connection, yet there could be a metaphoric relation or it refers to a convention, such as red cross picture on white background is a signpost for a nearby hospital.

Comments

Popular posts from this blog

Qissatul Iman: Kisah Mencari Tuhan

Buku ini di tulis oleh Syekh Nadim Aj-Jisr, berupa uraian percakapn teologis-filosofis tentang wujud Tuhan. Wujud Tuhan dalam pengertian disini bukan wujud dalm bentuk 'shape' atau 'form', tetapi wujud keberadaannya di alam semesta, terutama dalam wujud abstraksi pemikiran. Perbedaan yang semakin menjurang antara pemikir dan pemikiran Islam dan Barat adalah diakibatkan dari di satu pihak kejumudan umat Islam terhadap pemikiran tertentu, dan kebebasan ekstrim dalam berpikir di pihak pemikir/pemikiran Barat. Satu-satunya manusia dan juga nabi yang diberi predikat maksum hanyalah Muhammad Rasullullah s.a.w, sebagaimana yang diimani oleh umat islam. Karena ajaran yang dibawanya bukan berasal dari pemikiran pribadi, tetapi diturunkan oleh Allah S.W.T kepada beliau. Percik pemikiran pribadinya dapat dilihat melalui tingkah laku dan perkataan yang disebut Sunnah nabi. Hanya nabi yang senantiasi dilindungi dari kesalahan dan kesia-siaan perbuatan oleh Allah, hanya beliau ya...

Kisah Negeri yang Tak Kunjung Menghargai Jasa Pendidiknya

0.Esei ini dituliskan sebagai refleksi atas suatu masa dimana penulis hidup dan mengalami sendiri betapa mendapatkan kesejateraan dari penghidupan melalui minat dan niat terhadap dunia ilmu pengetahuan kemudian membagikannya kepada anak-anak bangsa tidaklah memberikan jaminan kelayakan hidup. 1.Ada kesan dosen itu bukan profesi sebagaimana pekerjaan lainnya boleh mendapatkan kelayakan renumerasi yang berkecukupan, seolah-olah itu sebuah tabu. Bahkan, muncul motivasi negatif dari orang-orang yang konon berjiwa sosial mengabdikan hidupnya di luar dunia kependidikan dan menjadikan usaha dagangnya memberi manfaat bagi masyarakat yang lebih luas ketimbang hanya di civitas akademika. 2.Terdapat kebingungan membedakan mana konteks menyejahterakan profesi pendidik dan mana konteks sosial peran pendidik sebagai personal makhluk sosial menyejahterakan masyarakat sekelilingnya. Yang satu sebagai dosen bertanggung-jawab atas pengembangan keilmuannya, membangun 'body of knowledge' menjadi ...

Kesungguhan dan Kepura-pura-an

 Belakang hari ini semakin terlihat betapa mirisnya dunia pendidikan tanah air dijalankan. Pengejaran ranking menjadi komando tertinggi, bukan dengan memperbaiki infrastruktur dalaman, namun menonjolkan luaran-luaran, dengan target minimum syarat dan kompetensi. Yang diutamakan adalah pengisian kolom-kolom penilaian, tanpa ada waktu dan perhatian lagi untuk melihat apa yang di-wakilkan oleh angka-angkat penilaian tersebut. Yang terpenting adalah 'check-list' semua syarat-syarat terpenuhi. Ambil contoh perpustakaan, jumlah buku, dan presentase tahun terbit serta judul-judul yang bisa dipakai untuk mendukung akreditasi sekaligus semua program studi jauh lebih diutamakan, ketimbang memeriksa kesesuaian ketersediaan isi buku, judul dan jumlah dengan kebutuhan bagi para pendidik dan peserta didik. Angka-angka penilaian perpustakaan adalah bagian yang paling mudah untuk dimanipulasi datanya. Bagian-bagian fasilitas perpustakaan mudah untuk didokumentasikan sekedar melengkapi daftar p...